Makalah Pengkajian Puisi

Written By Fahrin Ilham on Sabtu, 10 Maret 2012 | 20.32

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Satuan arti yang menentukan struktur formal linguistik karya sastra adalah kata. Dalil seni sastra J. Elema menyatakan bahwa puisi mempunyai nilai seni, bila pengalaman jiwa yang menjadi dasarnya dapat dijelmakan ke dalam kata (Slametmuljana, 1956:25). Untuk mencapai ini pengarang mempergunakan berbagai cara. Terutama alatnya yang terpenting adalah kata.
Dalam pembicaraan ini akan ditinjau arti kata dan efek yang ditimbulkannya. Di antaranya arti denotatif dan konotatif, perbendaharaan kata (kosa kata), pemilihan kata (diksi), bahasa kiasan, dan hal-hal yang berhubungan dengan struktur kata-kata atau kalimat puisi, yang semuanya itu dipergunakan oleh penyair untuk melahirkan pengalaman jiwanya dalam sajak-sajaknya
Kata-kata yang telah dipergunakan oleh penyair, oleh Slametmuljana disebut kata berjiwa (1956:4), yang tidak sama (artinya) dengan kata dalam kamus, yang masih menunggu pengolahan. Dalam kata berjiwa ini sudah dimasukkan perasaan-perasaan penyair, sikapnya terhadap sesuatu. Singkatnya, kata berjiwa sudah diberi suasana tertentu. Pengetahuan tentang kata berjiwa disebut dengan stilistika. Sedangkan pengetahuan tentang kata-kata sebagai kesatuan yang satu lepas dari yang lain disebut leksikografi. Kata berjiwa sudah tetap artinya, sudah mengandung jelmaan rasa dan cinta penciptanya (Slametmuljana, 1965:5). Penempatan kata yang mengakibatkan gaya kalimat di samping ketepatan pemilihan kata, memegang peranan penting dalam penciptaan sastra. Gramatika yang membicarakan efek dan kesan yang ditimbulkan oleh pilihan kata dan penyusunan (penempatan) kata disebut tata bahasa stilistika, sedangkan yang lain yang membicarakan kaidah-kaidah bahasa disebut tata bahasa normatif.
Penyair tampaknya memergunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa sehari-hari. Hal ini disebabkan bahasa sehari-hari belum cukup dapat melukiskan apa yang dialami jiwanya (Slametmuljana, 1956:5). Dalam puisi belum cukup bila hanya dikemukakan maksudnya saja, yang dikehendaki penyair ialah supaya siapa yang membaca dapat turut merasakan dan mengalami seperti apa yang dirasakan dan dialami penyair.

1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan kata dalam puisi?
2. Apa yang dimaksud dengan kosa kata dan pemilihan kata serta contohnya dalam puisi?
3. Apa yang dimaksud dengan bahasa kiasan serta apa saja bagian-bagian dari bahasa kiasan itu?

1.3 TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk dapat memberikan pemahaman kepada pembaca berupa penjelasan mengenai kata dan pembagiannya yang di dalam makalah ini sudah dipaparkan oleh pemakalah secara rinci. Di samping itu makalah ini juga bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah kajian puisi.


BAB II
KATA
2.1 PENGERTIAN KATA
2.1.1 Pengertian Kata Secara Umum
Kata atau ayat adalah suatu unit dari suatu bahasa yang mengandung arti dan terdiri dari satu atau lebih morfem. Umumnya kata terdiri dari satu akar kata tanpa atau dengan beberapa afiks. Gabungan kata-kata dapat membentuk frasa, klausa, atau kalimat (H. Alwi, 1998).
Secara etimologi kata "kata" dalam bahasa Melayu dan Indonesia diambil dari bahasa Sansekerta kathā. Dalam bahasa Sansekerta kathā sebenarnya artinya adalah "konversasi", "bahasa", "cerita" atau "dongeng". Dalam bahasa Melayu dan Indonesia terjadi penyempitan arti semantis menjadi "kata" (Monier-Williams, 1899).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1997) memberikan beberapa definisi mengenai kata:
1.    Elemen terkecil dalam sebuah bahasa yang diucapkan atau dituliskan dan merupakan realisasi kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa
2.    Konversasi, bahasa
3.    Morfem atau kombinasi beberapa morfem yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas
4.    Unit bahasa yang dapat berdiri sendiri dan terdiri dari satu morfem (contoh kata) atau beberapa morfem gabungan (contoh perkataan)
Definisi pertama KBBI bisa diartikan sebagai leksem yang bisa menjadi lema atau entri sebuah kamus. Lalu definisi kedua mirip dengan salah satu arti sesungguhnya kathā dalam bahasa Sansekerta. Kemudian definisi ketiga dan keempat bisa diartikan sebagai sebuah morfem atau gabungan morfem.
2.1.2 Kata Ditinjau dari Sudut Pandang Puisi
Satuan arti yang menentukan struktur formal linguistik karya sastra adalah kata. Dalil seni sastra J. Elema menyatakan bahwa puisi mempunyai nilai seni, bila pengalaman jiwa yang menjadi dasarnya dapat dijelmakan ke dalam kata (Slametmuljana, 1956:25). Untuk mencapai ini pengarang mempergunakan berbagai cara. Terutama alatnya yang terpenting adalah kata.
Kata-kata yang telah dipergunakan oleh penyair, oleh Slametmuljana disebut kata berjiwa (1956:4), yang tidak sama (artinya) dengan kata dalam kamus, yang masih menunggu pengolahan. Dalam kata berjiwa ini sudah dimasukkan perasaan-perasaan penyair, sikapnya terhadap sesuatu. Singkatnya, kata berjiwa sudah diberi suasana tertentu. Pengetahuan tentang kata berjiwa disebut dengan stilistika. Sedangkan pengetahuan tentang kata-kata sebagai kesatuan yang satu lepas dari yang lain disebut leksikografi. Kata berjiwa sudah tetap artinya, sudah mengandung jelmaan rasa dan cinta penciptanya (Slametmuljana, 1965:5). Penempatan kata yang mengakibatkan gaya kalimat di samping ketepatan pemilihan kata, memegang peranan penting dalam penciptaan sastra. Gramatika yang membicarakan efek dan kesan yang ditimbulkan oleh pilihan kata dan penyusunan (penempatan) kata disebut tata bahasa stilistika, sedangkan yang lain yang membicarakan kaidah-kaidah bahasa disebut tata bahasa normatif.
Penyair tampaknya memergunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa sehari-hari. Hal ini disebabkan bahasa sehari-hari belum cukup dapat melukiskan apa yang dialami jiwanya (Slametmuljana, 1956:5). Dalam puisi belum cukup bila hanya dikemukakan maksudnya saja, yang dikehendaki penyair ialah supaya siapa yang membaca dapat turut merasakan dan mengalami seperti apa yang dirasakan dan dialami penyair. Misalnya seperti yang tampak dalam sajak Toto Sudarto Bachtiar ini (1977:50):
PAHLAWAN TAK DIKENAL
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang.
Tidak cukup hanya dikatakan bahwa pahlawan itu sepuluh tahun yang lalu mati tertembak di dadanya, pada waktu pertempuran di Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Dalam bait sajak tersebut terpancar sikap dan rasa hormat, serta rasa intim penyair. Bila dikatakan ia mati tertembak rasanya rasa intim itu tidak ada, bahkan rasanya kurang hormat meskipun hakekatnya sama saja artinya dengan: dia terbaring, tetapi bukan tidur. Orang yang baik matinya baik/indah. Hal ini dinyatakan bahwa di dada pahlawan itu ada sebuah lubang peluru bundar. Padahal kenyataannya tentu bukan hanya itu saja, tentu ada darah yang belepotan merah tua mengerikan, tetapi untuk menyatakan rasa hormat, yang buruk itu tak dikemukakan. Juga, orang yang meninggal tertembak tentu tak akan tersenyum, melainkan menyeringai kesakitan. Akan tetapi, oleh penyair tak dikatakan demikian, melainkan dikatakan : senyum beku-nya mau berkata. Seolah-olah ia tersenyum abadi untuk menyatakan keikhlasan kematiannya dalam membela nusa dan bangsa.
Berkat usaha penyair itu kata-kata dalam sajaknya berupa kepribadian, yaitu pengekspresiannya bersifat pribadi atau individual. Tiap-tiap penyair mempunyai cara sendiri untuk menyampaikan pengalaman jiwanya, misalnya yang berikut ini.

Chairil Anwar:
LAGU SIUL
I
Laron pada mati
Terbakar di sumbu lampu
Aku juga menemu
Ajal di cerlang caya matamu
Heran! ini badan yang selama berjaga
Habis hangus di api matamu
‘Ku kayak tidak tahu saja.
 (1959:25)
Untuk menyatakan bahwa penyair menderita karena pikatan mata indah kekasihnya yang kemudian meninggalkannya, supaya terasa konkret, dan perasaan kesakitan itu terasa, dipergunakan kata-kata: habis hangus di matamu. Rasa kesakitannya seperti terbakar api (bahkan membunuh seperti laron yang masuk lampu), lebih nyata dari pada kata “menderita” saja.
W.S. Rendra dalam mengkonkretkan hal yang sesungguhnya tak tampak, ia mempergunakan ungkapan sebagai berikut:
Tiada mawar-mawar di jalanan
tiada daun-daun palma
domba putih menyeret azab dan dera  
kata “menyeret” itu mengkonkretkan tanggapan, seolah-olah “azab” dan “dera” itu dapat dilihat dengan mata biasa dan terasa betapa beratnya.
2.2 KOSA KATA
Kosakata adalah himpunan kata yang diketahui oleh seseorang atau entitas lain, atau merupakan bagian dari suatu bahasa tertentu. Kosakata dalam bahasa Inggris disebut vocabulary, kosakata seseorang didefinisikan sebagai himpunan semua kata-kata yang dimengerti oleh orang tersebut atau semua kata-kata yang kemungkinan akan digunakan oleh orang tersebut untuk menyusun kalimat baru.
Penambahan kosakata seseorang secara umum dianggap merupakan bagian penting, baik dari segi proses pembelajaran suatu bahasa ataupun pengembangan kemampuan seseorang dalam suatu bahasa yang sudah dikuasai. Murid sekolah sering diajarkan kata-kata baru sebagai bagian dari mata pelajaran tertentu dan banyak pula orang dewasa yang menganggap pembentukan kosakata sebagai suatu kegiatan yang menarik dan edukatif.
Alat untuk menyampaikan perasaan dan pikiran sastrawan adalah bahasa. Baik tidaknya tergantung pada kecakapan sastrawan dalam mempergunakan kata-kata. Dan segala kemungkinan di luar kata tak dapat dipergunakan (Slametmuljana, 1956:7), misalnya mimik, gerak, dan sebagainya. Kehalusan perasaan sastrawan dalam mempergunakan kata-kata sangat diperlukan. Juga perbedaan arti dan rasa sekecil-kecilnya pun harus dikuasai pemakainya. Sebab itu pengetahuan tentang leksikografi sastrawan syarat mutlak. Pernah dalam satu ceramahnya W.S. Rendra menganjurkan para penyair untuk selalu melihat arti kata dalam kamus, seperti ia sendiri selalu melihat kamus bahasa Indonesia dengan tekun untuk mendapatkan arti yang setepat-tepatnya. Dengan demikian, tak berarti bahwa bahasa serta kata-katanya berbeda dengan bahasa masyarakat. Bahkan puisi akan mempunyai nilai abadi bila dalamnya sastrawan berhasil mempergunakan kata-kata sehari-hari yang umum. Sesungguhnya sesuatu anggapan salah bahwa para penyair mempunyai bahasa khusus hanya untuk sastrawan saja terlepas dari perbendaharaan bahasa umum.

Seorang penyair dapat juga mempergunakan kata-kata kuno yang sudah mati, seperti ditunjukkan oleh Slametmuljana (1956:9), tetapi harus dapat menghidupkannya kembali. Misalnya sajak Amir Hamzah mempergunakan kata-kata marak dan leka yang tak pernah kedengaran lagi dalam kata-kata sehari-hari, yang artinya cahaya dan lena atau lalai, dalam sajaknya “Berdiri Aku”:

Benang raja mencelup ujung
Naik marak menyerak corak
Elang leka sayap tergulung
Dimabuk warna berarak-arak

Pengarang sering mempergunakan kata-kata bahasa daerah, misalnya sastrawan Jawa dengan kata-kata seperti W.S. Rendra, Subagio Sastrowardojo, Sapardi Djoko Damono, dsb, tetapi sastrawan dari Sumatera pun banyak yang mempergunakan kata-kata Jawa, seperti M. Yamin, Amir Hamzah, dan sebagainya. Juga sastrawan menyisipkan kata-kata Sunda, Minangkabau, Bali, dan sebagainya. Pemakaian kata daerah ini secara estetis harus juga dapat dipertanggungjawabkan, artinya penggunaannya harus dapat menimbulkan efek puitis, atau memang dalam bahasa Indonesia kata-kata itu tidak ada. Seringkali ada sastrawan yang mempergunkan kata-kata daerah tidak tepat artinya (karena bukan kata daerahnya sendiri) atau hanya untuk “gagah-gagahan”, maka hal ini dapat mempergelap arti atau mengurangi kepuitisannya. Begitu juga halnya, penggunaan kata-kata asing harus dapat menimbulkan efek puitis. Kata-kata asing seperti itu terdapat dalam sajak-sajak Chairil Anwar, namun  tidak banyak, di samping itu, sajak-sajak Darmanto Jt dalam kumpulannya Bangsat.
Dari uraian tadi nyatalah bahwa dasar bahasa yang dipergunakan sastrawan adalah bahasa umum. Bahasa/kata-kata yang kuno, yang sudah mati, yang tak dimengerti oleh masyarakat bila dipakai oleh sastrawan, maka dapat menyebabkan sajaknya menjadi mati, tak berjiwa. Misalnya penggunaan kata-kata kawi dalam kesusastraan Jawa. Juga kata-kata kuno dalam kesusastraan Melayu Kuno.
Penyair sering mempergunakan istilah-istilah asing atau perbandingan-perbandingan asing atau kalimat-kalimat bahasa asing. Hal ini pun haruslah dapat memberi efek puitis. Maksud penyair agar dapat dimengerti oleh kalangan luas dan memberi efek universal. Sebab itu, pemakaian kata atau perbandingan itu sudah harus dikenal umum, atau sudah populer. Misalnya: patung Mesir sifatnya tenang, seperti yang dipergunakan oleh Subagio Sastrowardojo dalam sajaknya: “Hari Natal”:

Manusia berdiri dingin sebagai patung-patung Mesir
Dengan  mata termangu ke satu arah.
(1982:28)
Juga Chairil Anwar mempergunakan perbandingan Ahasveros dan Eros, nama-nama dari mite Yahudi dan Yunani: petualangan dan dewi cinta. Di bawah ini sajak Chairil Anwar yang memakai kata-kata sehari-hari:

LAGU SIUL
II
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan bahagia
Sedangkan aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk sumpahi Eros
Aku merangkai dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka.
(1959:26)

TAMAN
Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita itu bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang.
Kecil penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia.
Maret 1943 (1978:17)

Penggunaan kata-kata bahasa sehari-hari dapat memberi efek gaya yang realistis, sedang penggunaan bahasa/kata-kata nan indah dapat memberi efek romantis.

   2.3 PEMILIHAN KATA
Penyair hendak mencurahkan perasaan dan isi pikirannya dengan setepat-tepatnya seperti yang dialami batinnya. Selain itu, juga ia ingin mengekspresikannya dengan ekspresi yang dapat menjelmakan pengalaman jiwanya tersebut, untuk itulah harus dipilih kata setepatnya. Pemilihan kata dalam sajak disebut diksi.
  
Barfield mengemukakan bahwa bila kata-kata dipilih dan disusun dengan cara yang sedemikian rupa hingga artinya menimbulkan atau dimaksudkan untuk menimbulkan imaginasi estetik, maka hasilnyaitu disebut diksi puitis (1952:41). Jadi, diksi itu untuk mendapatkan kepuitisan, untuk mendapatkan nilai estetika.
Penyair ingin mengeskspresikan pengalaman jiwanya secara padat dan intens. Untuk hal ini ia memilih kata yang setepat-tepatnya yang dapat menjelmakan pengalaman jiwanya. Untuk mendapatkan kepadatan dan intensitas serta supaya selaras dengan sarana komunikasi puitis yang lain, maka penyair memilih kata-kata dengan secermat-cermatnya (Altrenbernd, 1970:9). Penyair mempertimbangkan perbedaan arti yang sekecil-kecilnya dengan sangat cermat.
Untuk ketepatan pemilihan kata seringkali penyair menggantikan kata yang dipergunakan berkali-kali, yang dirasa belum tepat, bahkan meskipun sajaknya telah disiarkan (dimuat dalam majalah), sering masih juga diubah kata-katanya untuk ketepatan dan kepadatannya. Bahkan ada baris atau kalimat yang diubah susunannya atau dihilangkan. Seperti misalnya Chairil Anwar, begitu cermat ia memilih kata-kata dan kalimatnya. Misalnya sajaknya “Aku” yang terkenal itu, dalam Kerikil Tajam judulnya “Semangat”, dalam Deru Campur Debu (yang diserahkan lebih kemudian kepada penerbit, Cf. HBJ, Chairil Anwar, (1978:12) berjudul “Aku”. Juga kata ‘Ku tahu’ pada baris kedua bait pertama, diganti ‘Ku mau’, sebagai berikut.

SEMANGAT
Kalau sampai waktuku
‘Ku tahu tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu!
….
(Kerikil Tajam, h. 15)

AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu
….
(Deru Campur Debu, h. 7)

Mengapakah Chairil mengganti kata-kata itu? Kalau dirasa-rasakan, dalam kata ‘semangat’ itu terkandung arti perasaan yang menyala-nyala, dan terasa ada sifat propagandis ataupun rasa yang agak bombastis, berlebih-lebihan, ‘semangat-semangatan’. Sedangkan dalam kata ‘aku’ itu, terkandung perasaan yang menunjukkan kepribadian penyair dan semangat individualistisnya. Kalau ditinjau dari sudut ini, maka kata ‘aku’ lebih tepat dari ‘semangat’ untuk judulnya. Adapun judul “Semangat” itu sesungguhnya dulu untuk mengelabui sensor yang keras pada zaman Jepang sehingga dengan kata yang berbau propagandis atau sloganis itu, sajak yang sesungguhnya individualistis yang terlarang pada zaman Jepang itu, dapat lolos dari sensor. Sedangkan kata ‘Ku tahu’ ini menunjukkan (mengandung) perasaan pesimistis, rasa keterpencilan. Bila sajak itu dideklamasikan, maka nadanya rendah dan melankolik. Hal ini tidak sesuai dengan bait-bait selanjutnya yang penuh semangat dan rasa vitalitas yang menyala. Maka dirasa kata itu tidak tepat dan diganti oleh penyair dengan kata ‘Ku mau’ yang lebih menunjukkan kemauan pribadi yang kuat. Ia mau orang lain tidak sedih, tidak merayu atas kematiannya. Dengan demikian, kata itu sesuai dengan keseluruhan sajak itu. Cara mendeklamasikannya pun dengan penuh vitalitas, tidak melankolik lagi.

Dalam sajaknya “Derai-derai Cemara” bait ketiga baris kedua, juga diubah salah satu katanya, dalam Kerikil Tajam sebagai berikut:

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta  sekolah rendah
(h. 54)

Dalam versi lain sebagai berikut:

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah jauh dari cinta sekolah rendah
(Jassin, 1978:79)

Kata ‘terasing’ mengandung rasa terpencil, menunjukkan rasa keterasingan, sedangkan kata ‘jauh’ menunjukkan jarak. Yaitu pikiran, angan-angan, atau cita-cita sekolah rendah (masa kanak-kanak) itu begitu cemerlang mengangankan hidup yang akan datang, penuh harapan yang gemilang. Tetapi, kenyataannya tidak begitu, hidup ini penuh penderitaan−jadi, hidup ini ‘tambah jauh’ dari cinta sekolah rendah’, hanya menunda kekalahan saja. Jadi, kata ‘jauh’ lebih tepat dari pada kata ‘terasing’.
Dalam sajaknya “Selamat Tinggal” ada kalimat/baris yang dihilangkan:

SELAMAT TINGGAL
Aku berkaca
Bukan buat ke pesta

Ini muka penuh luka
Siapa punya?
….
   (KRT, h. 32)

Versi yang lain:

SELAMAT TINGGAL
Aku berkaca
Ini muka penuh luka
Siapa punya?
….
(DCD, h. 9)

‘Bukan buat ke pesta’ dihilangkan karena dirasa hanya membebani saja karena tidak berfungsi dan malah menghilangkan daya ekspresivitasnya karena tidak padat. Yang paling penting, menjadi intinya adalah perbuatan ‘Aku berkaca’ itu sendiri, sedangkan untuk apa itu tidak penting hingga tidak perlu kalimat ‘Bukan buat ke pesta’. Dengan dihilangkan baris kedua itu, membuat kalimat pertama menjadi lebih berarti dan ekspresif dan lebih luas jangkaunnya.
Sajak Chairil Anwar yang lain, di antaranya yang diubah susunannya, ditambah kata-katanya, dan diganti kata-katanya ialah “Hampa”. Coba bandingkan kedua kutipan di bawah ini, yang pertama dari Kerikil Tajam, yang kedua dari Deru Campur Debu.

2.4 DENOTASI DAN KONOTASI
Termasuk pembicaraan diksi ialah tentang denotasi dan konotasi. Dalam memilih kata-kata supaya tepat dan menimbulkan gambaran yang jelas dan tepat itu penyair mesti mengerti denotasi dan konotasi sebuah kata.
Sebuah kata itu mempunyai dua aspek arti, yaitu denotasi, ialah artinya yang menunjuk, dan konotasi , yaitu arti tambahannya. Denotasi sebuah kata adalah definisi kamusnya, yaitu pengertian yang menunjuk benda atau hal yang diberi nama dengan kata itu, disebutkan, atau diceritakan (Altenbernd, 1970:9). Bahasa yang denotatif adalah bahasa yang menunjuk kepada korespondensi satu lawan satu antara tanda (kata itu) dengan (hal) yang ditunjuk (Wellek, 1968:22). Jadi, satu kata itu menunjuk satu hal saja. Yang seperti ini ialah ideal bahasa ilmiah. Dalam membaca sajak orang harus mengerti arti kamusnya, arti denotatif, orang harus mengerti apa yang ditunjuk oleh tiap-tiap kata yang dipergunakan.
Namun dalam puisi (karya sastra pada umumnya), sebuah kata tidak hanya mengandung aspek denotasinya saja. Bukan hanya berisi arti yang ditunjuk saja, masih ada arti tambahannya, yang ditimbulkan oleh asosiasi-asosiasi yang keluar dari denotasinya. Misalnya sajak W.S. Rendra ini:

DI MEJA MAKAN

Ia makan nasi dan isi hati
pada mulut terkunyah duka
tatapan matanya pada lain isi meja
lelaki muda yang dirasa
tidak lagi dimilikinya.

Ruang diributi jerit dada
Sambal tomat pada mata
meleleh air racun dosa

….
(BOOT, h. 34)

Sambal tomat pada mata; sambal tomat, sambal yang terbuat dari bahan tomat. Sambal itu rasanya pedas, tomat warnanya merah. Kalau dibayangkan sambal tomat ada di mata, maka rasanya pedas, pedih, sakit dan berwarna merah, serta berair mata, seperti kalau mata kena sambal tomat.
Kumpulan asosiasi-asosiasi perasaan yang terkumpul dalam sebuah kata diperoleh dari setting yang dilukiskan itu disebut konotasi. Konotasi menambah denotasi dengan menunjukkan sikap-sikap dan nilai-nilai, dengan memberi daging (menyempurnakan) tulang-tulang arti yang telanjang dengan perasaan atau akal, begitu dikemukakan oleh Alterbernd (1970:10).
Sebuah contoh lagi saja Sutardji Calzoum Bachri ini:

SOLITUDE

yang paling mawar
yang paling duri
yang paling sayap
yang paling bumi
yang paling pisau
yang paling risau
yang paling nancap
yang paling dekap

samping yang paling Kau!

(1981:37)

‘yang paling mawar’, artinya yang paling mempunyai sifat-sifat seperti mawar, yaitu biasanya warnanya merah cemerlang, menarik, indah, dan harum. Jadi, kesunyian (solitude) itu mempunyai sifat yang paling menarik, indah, serta harum. ‘yang paling duri’, artinya paling menusuk, menyakitkan, menghalangi, seperti duri. ‘yang paling dekap’, ialah yang paling mesra, seperti orang mendekap. Begitulah kasunyian itu! Dan di samping sifat yang paling itu adalah Kau! yaitu Tuhan. Jadi, bila orang dalam keadaan yang paling itu, orang akan teringat atau ‘melihat’ Tuhan.
Dikemukakan oleh Rene Wellek (1962:23) bahwa bahasa sastra itu penuh arti ganda, penuh homonym, kategori-kategori arbitraire, atau irrasional, menyerap peristiwa-peristiwa sejarah, ingatan-ingatandan asosiasi-asosiasi. Pendeknya, bahasa sastra itu sangat konotatif (lebih-lebih bahasa puisi). Lagi pula bahasa sastra jauh drai hanya menerangkan saja. Bahasa sastra mempunyai segi ekspresifnya, membawa nada dan sikap si pembicara atau penulis. Misalnya untuk contoh bait sajak Toto Sudarto Bachtiar ini kita ambil lagi.

PAHLAWAN TAK DIKENAL

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang.
(Suara, 1977:50)

Sajak itu ditulis tahun 1955; sepuluh tahun yang lalu itu 1945, pada waktu Hari Pahlawan 10 November 1945, banya pahlawan yang gugur dan banyak yang tak dikenal, namun mereka meninggal dengan ikhlas. Hal ini digambarkan penyair dengan ‘senyum bekunya’, ini memberi sugesti keikhlasan. Dalam menggambarkan pahlawan yang meninggal dengan ikhlas itu penyair menunjukkan sikapnya yang hormat. Ia tidak menyatakan ‘ia mati’, melainkan ‘ia terbaring’, tetapi bukan tidur’, yang artinya sama dengan ‘mati’. Juga meninggalnya karena tertembak, digambarkan ada lubang peluru bundar di dadanya, hingga tampaknya indah: lubang bundar di dada! Darahnya yang memancar dan dadanya yang pecah itu tidak digambarkan secara naturalistis untuk menunjukkan rasa hormat. Juga, orang yang meninggal itu, betapapun ikhlasnya, tentu menunjukkan kesakitan, tetapi kalau hal itu menunjukkan sikap yang tidak menghormati. Itulah yang dimaksudkan bahwa puisi itu membawa nada dan sikap penulis.
Jadi, kesimpulannya dalam membaca sajak, selain harus dimengerti arti kamusnya atau arti denotatifnya, juga harus diperhatikan konotasi, atau arti konotatifnya yang timbul dari asosiasi-asosiasi arti denotatif.  

2.5 BAHASA KIASAN
Unsur kepuitisan yang lain, untuk mendapatkan kepuitisan ialah bahasa kiasan (figurative language). Adanya bahasa kiasan ini menyebabkan sajak menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan. Bahasa kiasan ini mengiaskan atau mempersamakan sesuatu hal dengan hal lain supaya gambaran menjadi jelas, lebih menarik, dan hidup.
Bahasa kiasan ada bermacam-macam, namun meskipun bermacam-macam, mempunyai sesuatu hal (sifat) yang umum, yaitu bahasa-bahasa kiasan tersebut mempertalikan sesuatu dengan cara menghubungkannya dengan sesuatu yang lain (Altenbernd, 1970:15).
Jenis-jenis bahasa kiasan tersebut adalah:

a.      Perbandingan (Simile)
Perbandingan atau perumpamaan atau simile, ialah bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti: bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, seumpama, laksana, sepantun, penaka, se, dan kata-kata pembanding yang lain.
Perumpamaan atau perbandingan ini dapat dikatakan bahasa kiasan yang paling sederhana dan paling banyak dipergunakan dalam sajak. Namun sesungguhnya perumpamaan ini ada bermacam-macam corak pula. Di bawah ini beberapa contoh perbandingan:

Sebagai kilat ‘nyinar di kalbu
Sebanyak itu curahan duka
Sesering itu pilu menyayat.
(St. Takdir Alisjahbana, “Bertemu”, Jassin, 1963:57)
Tersenyum beta laksana arca (Jassin, 1963:67)
Amir Hamzah:

Nanar aku, gila sasar
sayang berulang padamu jua
engkau pelik menarik angin
serupa dara dibalik tirai

(“Padamu Jua”, 1959:5)

b.      Metafora
Metafora ini bahasa kiasan seperti pembanding, hanya tidak mempergunakan kata-kata pembanding, seperti bagai, laksana, seperti, dan sebagainya. Metafora ini melihat sesuatu dengan perantaraan benda yang lain (Becker, 1978:317).
Metafora ini menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan hal lain, yang sesungguhnya tidak sama (Altenbernd, 1970:15).

Misalnya: Bumi ini perempuan jalang.
 (Subagio, “Dewa Telah Mati”, 1975:9)
Tuhan adalah warganegara yang paling modern
(Subagio, “Katekhisasi”, 1975:29)
Sorga hanya permainan sebentar.
….
Cinta adalah budaya yang lekas jadi pudar
 (Chairil Anwar, “Tuti Artic”, 1959:41)

Dalam sajak Subagio, bumi dipersamakan dengan perempuan jalang, dan Tuhan dipersamakan dengan warganegara yang paling modern. Dalam sajak Chairil Anwar tersebut, sorga dipersamakan dengan permainan sebentar, sedangkan cinta dipersamakan dengan bahaya.
Metafora terdiri dari dua term atau dua bagian, yaitu term pokok (principal term) dan term kedua (secondary term). Term pokok disebut juga tenor, term kedua disebut juga vehicle. Term pokok atau tenor menyebutkan hal yang dibandingkan, sedangkan term kedua atau vehicle adalah hal yang untuk membandingkan. Misalnya ‘Bumi’ adalah ‘perempuan jalang’: ‘Bumi’ adalah term pokok, sedangkan ‘perempuan jalang’ term kedua atau vehicle.
Seringkali penyair langsung menyebutkan term kedua tanpa menyebutkan term pokok atau tenor. Metafora semacam ini disebut metafora implisit (implied metaphor). Misalnya:

Hidup ini mengikat dan mengurung
(Subagio, “Sajak”, 1975:15)

Hidup diumpamakan sebagai tali yang mengikat dan juga sebagai kurungan yang mengurung. Di situ yang disebutkan bukan pembandingnya, tetapi sifat pembandingnya.

Bumi ini perempuan jalang
yang menarik laki-laki jantan dan pertapa
ke rawa-rawa mesum ini
(“Dewa Telah Mati”, 1975:9)

‘Rawa-rawa mesum’ adalah kiasan kehidupan yang kotor, yang mesum, kehidupan yang penuh percabulan, merupakan vehicle atau term kedua.
Di samping itu ada metafora yang disebut metafora mati (dead metaphor), yaitu metafora yang sudah klise sehingga orang sudah lupa bahwa itu metafora, misalnya kaki gunung, lengan kursi, dan sebagainya.
Di bawah ini beberapa contoh metafora:


Amir Hamzah:
Kupangku di lengan lagu
Kudaduhkan di selendang dendang
(“Barangkali”, 1959:6)

Buka mata-mutiara-Mu
Barangkali mati di pantai hati
Gelombang kenang membanting diri
(“Barangkali”)

Aku boneka engkau boneka
Penghibur dalang mengatur tembang
Di layar kembang bertukar pandang
Hanya selagu, sepanjang dendang
(“Sebab Dikau, 1959:11)

c.       Perumpamaan Epos
Perumpamaan atau perbandingan epos (epic simile) ialah perbandingan yang dilanjutkan, atau diperpanjang, yaitu dibentuk dengan cara melanjutkan sifat-sifat pembandingnya lebih lanjut dalam kalimat-kalimat atau frase-frase yang berturut-turut. Kadang-kadang lanjutan ini sangat panjang. Perbandingan epos ini ada bermacam-macam variasi juga. Contoh-contoh sebagai berikut:

Rustam Effendi:

DI TENGAH SUNYI
Di tengah sunyi menderu rinduku,
Seperti topan. Meranggutkan dahan,
Mencabutkan akar, meranggutkan kembang kalbuku.

Aoh Kartahadimadja:

SEBAGAI DAHULU
Laksana bintang berkilat cahaya,
Di atas langit hitam kelam,
Sinar berkilau cahaya matamu,
Menembus aku ke jiwa dala.

Ah, sadar aku,
Dahulu……….
Telah terpasang lentera harapan,
Tertiup angin gelap keliling.

Laksana bintang di langit atas,
Bintangku kejora
Segera lenyap beredar pula,
Bersama zaman terus berputar.
(Jassin, 1959, h. 51)

Guna perbandingan epos ini seperti perbandingan juga, yaitu untuk memberi gambaran yang jelas, hanya saja perbandingan epos dimaksudkan untuk lebih memperdalam dan menandaskan sifat-sifat pembandingnya, bukan sekedar memberikan persamaannya saja.

d.      Allegori
Allegori adalah cerita kiasan ataupun lukisan kiasan. Cerita kiasan atau lukisan kiasan ini mengiaskan hal lain atau kejadian lain. Allegori ini banyak terdapat dalam sajak-sajak Punjangga Baru. Namun pada waktu sekarang banyak juga terdapat dalam sajak-sajak Indonesia modern yang kemudian. Allegori ini sesungguhnya metafora yang dilanjutkan misalnya “Menuju Ke Laut”, saja Sultan Takdir Alisjahbana. Sajak itu melambangkan angkatan baru yang berjuang ke arah kemajuan. Angkatan baru ini dikiaskan sebagai air danau yang menuju ke laut dengan melalui rintangan-rintangan. Laut penuh gelombang, mengiaskan hidup yang penuh dinamika perjuangan, penuh pergolakan. Jadi, sajak tersebut mnegiaskan angkatan muda yang penuh semangat menuju kehidupan baru yang dinamis, meninggalkan adat yang statis, kehidupan lama yang beku, tidak mengalir.

MENUJU KE LAUT
Angkatan Baru

Kami telah meninggalkan engkau,
tasik yang tenang, tiada beriak,
diteduhi gunung yang rimbun
dari angin dan topan,
Sebab sekali kami terbangun
dari mimpi yang nikmat:

“Ombak riak berkejar-kejran
di gelanggang biru bertepi langit.
Pasir rata berulang di kecup,
tebing curam ditantang diserang,
dalam bergurau bersama angin,
dalam berlomba bersama mega”.

Sejak itu berjiwa gelisah.
Selalu berjuang, tiada reda.
Ketenangan lama rasa beku,
gunung pelindung rasa pengalang.
Berontak hati hendak bebas,
menyerang segala apa menghadang.

Gemuruh berderau kami jatuh,
terhempas berderai mutiara bercahaya.
Gegap gempita suara mengerang,
dahsyat bahana suara menang.
Keluh dan gerak silih berganti
pekik dan tempik sambut menyambut.

Tetapi betapa sukarnya jalan,
badan terhempas, kepala tertumbuk,
hati hancur, pikiran kusut,
namun kembali tiadalah angin,
ketenangan lama tiada diratap.

……………….

Kami telah meninggalkan engkau,
tasik yang terang, tiada beriak,
diteduhi gunung yang rimbun
dari angin dan topan.
Sebab sekali kami terbangun
dari mimpi yang nikmat.
(Jassin, 1963:70)

e.       Personifikasi
Kiasan ini mempersamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dibuat dapat berbuat, berpikir, dan sebagainya seperti manusia. Personifikasi ini banyak dipergunakan para penyair dari dahulu hingga sekarang.
Personifikasi ini membuat hidup lukisan, di samping itu memberi kejelasan beberan, memberikan bayangan angan yang konkret.
Personifikasi pun ada bermacam-macam variasi juga, di bawah ini beberapa contoh.
Rustam Effendi:

ANAK MOLEK V

Malas dan malu nyala pelita
seperti meratap mencucuri mata
Seisi kamar berduka cita,
seperti takut, gentar berkata.
(Jassin, 1963:177)

Amir Hamzah:

PADAMU JUA

Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang bertahan
Sabar, setia selalu
(NS, 1959, h. 5)

f.        Metonimia
Bahasa kiasan yang lebih jarang dijumpai pemakaiannya dibanding metafora, perbandingan, dan personifikasi adalah metonimia dan sinekdoki.
Metonimia ini dalam bahasa Indonesia sering disebut kiasan penganti nama. Bahasa ini berupa penggunaan sebuah atribut sebuah objek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat berhubungan dengannya untuk menggantikan objek tersebut (Altenbernd,1970:21). Sebuah contoh yang dikemukakan oleh altenbernd sebagai berikut:

There is no armour against Fate;
Death lays his icy hand or kings;
Sceptre and crown
Must tumble down,
And in the dust be equal made
With the poor crooked scythe the and spade
(Tak ada perisai terhadap nNasib;
Kematian meletakkan tangannya yang dingin pada raja-raja:
Tongkat kerajaan dan mahkota
Harus runtuh
Dan di debu disamaratakan
Dengan sabit dan sekop miskin bengkok)

Tongkat kerajaan dan mahkota untuk menggantikan pemerintah (raja-raja), sedang sabit dan sekop untuk menggantikan (menggambarkan) orang kebanyakan.
Penggunaan metonimia ini efeknya ialah pertama untuk membuat lebih hidup dengan menunjukkan hal yang konkret itu. Penggunaan hal tersebut lebih dapat menghasilkan imaji-imaji yang nyata. Kedua, pertentangan benda-benda tersebut menekankan pemisahan status sosial antara bangsawan dan orang kebanyakan. Benda-benda tersebut merupakan tanda pangkat atau tingkatan (Altenbernd, 1970:21).

g.      Sinekdoki (synecdoche)
Sinekdoki adalah bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian yang penting suatu benda (hal) untuk benda atau hal itu sendiri. (Altenbernd, 1970:22).
Sinekdok ini ada dua macam:
1.      Pars pro toto: sebagian untuk keseluruhan.
2.      Totum pro parte: keseluruhan untuk sebagian.
Pars pro toto ini banyak terdapat dalam sajak-sajak Toto SudartoBachtiar. Misal:

KEPADA SI MISKIN
Terasa aneh dan aneh
Sepasang-sepasang mata memandangku
Menimpakan dosa
Terus terderitakankah pandang begini?

IBU KOTA SENJA
Gedung-gedung dan kepala mengabur dalam senja
….
Dan tangan serta kata menahan napas lepas bebas
Menunggu waktu mengangkut maut.

Sitor Situmorang:
Kujelajah bumi dan alis kekasih

Bumi itu totum pro parte, sedang alis kekasih itu pars pro toto.
Ajip Rosidi:
Kupanjat dinding dan hati wanita
Keduanya itu adalah pars pro toto.












BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Satuan arti yang menentukan struktur formal linguistik karya sastra adalah kata. Dalil seni sastra J. Elema menyatakan bahwa puisi mempunyai nilai seni, bila pengalaman jiwa yang menjadi dasarnya dapat dijelmakan ke dalam kata (Slametmuljana, 1956:25). Untuk mencapai ini pengarang mempergunakan berbagai cara. Terutama alatnya yang terpenting adalah kata.
Kata mempunyai bagian-bagian yang sangat penting dalam membuat sebuah karya sastra khususnya puisi, kata terbagi menjadi kosa kata, pemilihan kata, denotasi dan konotasi serta bahasa kiasan. Bahasa kiasan juga terbagi atas bahasa kiasan perbandingan, metapora, perumpamaan epos, allegori, personifikasi, metonimia, dan sinekdoki.

3.2 SARAN
Mengingat keterbatasan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh penulis, maka untuk mendapat pemahaman yang lebih mendasar lagi, disarankan kepada pembaca untuk membaca literatur yang telah dilampirkan pada daftar rujukan.
Dengan demikian pula diharapkan adanya saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca, agar makalah ini dapat memberikan pengetahuan tentang kata yang berhubungan dengan struktur kata-kata atau kalimat puisi.

DAFTAR PUSTAKA
1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
H. Alwi (http://id.wikipedia.org/wiki/H._Alwi). 1998. 
 Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tata_Bahasa_Baku_Bahasa_Indonesia&action=edit&redlink=1). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Monier-Williams, Monier. 1899. Sanskrit-English Dictionary.
 Pradopo, Rachmat Djoko. 2009. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
          

0 komentar:

Poskan Komentar

Blog ini Dofollow, Silahkan Menjadi komentator yang baik, cerdas, berbobot, sopan, santun, patuh pada rules yang berlaku dan profesional, berikan komentar yang membuat orang lain geram untuk mengklik dan mengunjungi blog sobat?? Kenapa tidak?? berkomentar lah untuk kemajuan blog ini !, Maaf jika ingin menyertakan url (http://) jangan didalam komentar, mohon diLink saja, terimakasih atas perhatianya.